Skip to main content

Romance Story? No!

Malang, 02 Maret 2015

Oke, kalau biasanya aku selalu menulis entah itu puisi, cerpen, atau bahkan tulisan gak jelas, kali ini aku mau cerita hal-hal yang lebih gak jelas lagi. Jadi, siapkan otak kalian karena otak kalian akan diinvasi oleh kata-kata bagaikan virus ganas dari planet Z yang siap memakan segala sesuatu yang kalian pikirkan. Ett tunggu! Jangan beranjak dulu! Bercanda kok! Aku gak bakal setega itu membuat tamu blogku males ke sini lagi. Hehe... virusnya sudah ku kurung di otakku yang bagaikan labirin tiada akhir dan tenang saja mereka tidak akan menyerang kalian karena otakku sendiri masih cukup kuat untuk menampung. #garing amat sih za!

Well balik ke topik! Buat temen-temen semua di sini, aku punya satu pertanyaan yang penting banget! Dan aku harap kalian mau memberiku jawaban terbaik, terjujur, dan bisa membuat aku berhenti bertanya. Pertanyaannnya adalah

             “Kenapa buku-buku yang dipajang paling depan dan dijual di Toko Buku manapun di belahan bumi Indonesia ini selalu didominasi teenlit dan romance novel?”

Setiap kali aku ke toko buku yang merupakan surga dunia bagiku, aku selalu menjumpai teenlit yang dipajang paling depan di antara deretan-deretan genre buku-buku lain. Dan novel-novel genre fantasi dan misteri yang merupakan kesukaanku selalu ku jumpai nyelepit di belakang atau dipojokan. Apakah ini artinya selera pembaca muda di Indonesia didominasi oleh romance story? Makanya banyak buku romance hampir di seluruh penjuru toko buku. Oke, kalau itu jawabannya aku punya pertanyaan lain nih!

             “Kenapa orang-orang  suka banget sama romance dan teenlit? I fail to see the reason T_T.”

Honestly, I used to read that genre when I was in Junior and Senior High. Itu pun  karena pengaruh temen-temen sekelas. Sebenarnya aku lebih tertarik membaca komik detektif. Dulu yang ngetrend itu Fairish dan novel 4 musim karya Ilana Tan. Dan aku sudah baca hampir semuanya. Tapi entah makin lama aku makin kehilangan minat membaca novel bergenre teenlit dan romance.  Apalagi setelah aku menginjak bangku kuliahan. Aduh, aku sudah bener-bener kehilangan minat baca romance lagi. Malah rasanya males banget. Dan yang buat aku makin males adalah aku gak tau alasan aku gak suka itu apa. Apakah karena aku bisa menebak jalan ceritanya atau mungkin karena alasan usia yang sudah semakin bertambah dewasa sehingga membuatku tidak tertarik membaca kisah cinta remaja. Aduh aku sendiri sebenarnya gak paham. Sampai sekarang aku sudah tidak pernah membaca romance story lagi. Aku lebih banyak membaca fantasi dan misteri.

Sekarang ada pertanyaan lain lagi yang muncul di benakku.
             “Apakah karena aku sudah tidak tertarik membaca romance story lagi makanya aku tidak bisa menulis kisah cinta?”

Ada banyak sekali kompetisi menulis yang sliweran di dunia maya. Sekali dua kali aku pun ikut kompetisi itu. Dan yang kadang buatku jengkel kalau ada kompetisi menulis adalah kenapa temanya selalu cinta! Kenapa topiknya selalu kisah asmara yang jujur aku bego banget kalau soal begituan. Kalau topiknya sudah cinta, jujur aku pesimis aku bakal bisa berhasil. Kenapa? Karena aku gak pernah bisa menulis kisah cinta seperti yang orang-orang sukai. Kenapa gak bisa? Karena aku sendiri tidak tertarik pada kisah cinta. Kenapa tidak tertarik? Karena bagiku itu membosankan! Aku tidak tahu apa menariknya dengan kisah cinta! Aku berusaha untuk memahaminya hari demi hari. But, it doesn’t work! Aku berusaha membaca postingan blog di dunia maya yang bicara tentang cinta. But not long after I start reading it, I’m bored! Secara otomatis kursor ku pindahkan ke pojok kanan atas lalu aku mengklik tanda silang merah. Oh My... I just can’t stand that kind of story...

Nah ini pertanyaan paling menyedihkan yang aku punya.
             “Kalau aku tidak tertarik untuk membaca kisah cinta, tidak bisa menulis cerita cinta yang menjual, apakah itu artinya aku tidak bisa menjadi penulis di Indonesia?”

Oh My... tiap kali aku terpikir pertanyaan di atas, aku jadi sedih seketika. Padahal cita-citaku adalah menjadi penulis. Tetapi kalau di Indonesia genre romance adalah yang paling disukai sedangkan aku tidak bisa menulis kisah seperti itu, itu artinya I don’t have a chance. So, what should I do?

Selama ini cerpen-cerpen yang selalu aku pajang di blog ini selalu bertema fiksi dan fantasi dimana tokoh utamanya adalah anak-anak. Semua yang ku tulis memang terpengaruh oleh buku-buku fantasi anak-anak yang selalu aku baca. Aku yakin jika aku mengirimkan karyaku ke media massa karyaku pasti ditolak karena pembaca Indonesia tidak banyak yang menyukai fiksi dan fantasi. Aduh..kadang ini menjadi dilema bagiku. Aku ingin terus berkarya tetapi sulit rasanya dengan seleraku yang berbeda dari yang lain.

Again, what should I do? I don’t want to give up! But I don’t have a reason to keep my dream. Arrgghh....... I don’t want to stop writing fantasy!!!


image taken from Google

Comments

  1. iya , betul apa yang kamu bilang. kisah romance laris banget di negeri ini. gak cuma novel. film, lagu,puisi, apalah itu namanya, dominan romance.

    tapi bukan berarti hal itu mematikan mimpi kita ingin jadi penulis kan? banyak kok penulis yang genrenya bukan romance, tapi tulisannya laris di pasaran. optimis aja.

    good for you. :)

    salam kenal, moga bisa berteman sesama blogger

    ohiya, kebetulan aku blogger dari malang juga. jangan lupa mampir ke blog aku ya>> Fathur1453.blogspot.com (ada postingan terbaru) :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Fathur Rahman : haha terima kasih fathur.... thank you for the support :) bismillah bisa kok.... salam kenal juga ...nanti aku main ke blog kamu... jangan bosan main ke sini

      Delete
    2. siap,, bakal aku tunggu postingan-postingan ajib dan terbarunya :)

      Delete

Post a Comment